Generasi baru “Little Women” di tangan Greta Gerwig

Generasi baru "Little Women" di tangan Greta Gerwig

Rabu, 5 Februari 2020 14:39 WIB

Film "Little Women" karya Greta Gerwig menampilkan Saoirse Ronan, Emma Watson, Florence Pugh dan Eliza Scanlen. (www.sonypictures.com)

Jakarta (ANTARA) – Jo March terpaksa menelan keinginan editornya di New York, Mr. Dashwood, jika ingin laku, cerita pendeknya harus ditutup dengan dua cara, tokoh utama perempuan menikah atau meninggal.
Di Paris, Amy March hidup bagai bangsawan bersama bibinya. Di tengah jalan, dia bertemu dengan teman masa kecilnya Laurie yang sedang berlibur keliling Eropa.
Meg March dilanda bimbang, dia sangat ingin membeli bahan sutra untuk gaunnya, tapi, suami dan anak-anaknya butuh mantel untuk musim dingin.
Marmee March, yang masih tinggal di Concord, Massachusetts, menyurati Jo dan Meg agar segera pulang. Adik mereka, Beth March sakit keras.
Penggemar sastra klasik mungkin tidak asing dengan kakak-beradik Jo, Meg, Beth dan Amy, yang tinggal bersama ibu "Marmee" March dan bibi Hannah March selama sang ayah, Rob March, bertugas di medan perang.
Jo, Meg, Beth dan Amy di film "Little Women" dari sutradara Greta Gerwig masih Jo, Meg, Beth dan Amy yang sama di novel "Little Women" karya Louisa May Alcott yang terbit tahun 1868.
Jo (Saoirse Ronan) yang temperamental, tumbuh besar bersama saudarinya Meg (Emma Watson), si sulung yang lembut dan menyukai pesta dansa, Beth (Eliza Scanlen), anak ketiga yang pemalu dan gemar bermain piano serta si bungsu Amy (Florence Pugh) yang selalu ingin menikah dengan lelaki kaya.
Baca juga: "The Irishman" pimpin nominasi Critics Choice Awards 2020
Cerita versi 2019 pun masih sama, bagaimana mereka menjalani transisi dari remaja menjadi dewasa, persahabatan dengan Theodore "Laurie" Laurence (Timothee Chalamet) yang tinggal di rumah besar sampai konflik batin Jo yang mempertanyakan mengapa harus menikah.
Di tangan Greta Gerwig, cerita "Little Women" berpusat di tokoh protagonis Jo March yang menggebu untuk menerbitkan cerita, demi mengejar cita-cita, namun, belakangan untuk mendapatkan uang.
Jo, yang paling temperamental diantara keempat saudari March, menjadi penanda cerita, apakah sedang berada di masa kini atau sedang mengenang masa lampau.
Gerwig menggunakan cara bercerita yang tidak runut dalam film berlatar taun 1860an ini, saat Amerika sedang dilanda perang saudara. Terkadang sulit dibedakan, apakah film sedang menceritakan masa kini atau masa lalu, namun, biasanya mudah dikenali dari gaya berpakaian mereka.
Bagi mereka yang menyukai film drama atau film yang berlatar tua, film ini menghibur dan menyentuh, menceritakan keakraban kakak-beradik March, kebimbangan mereka ketika tumbuh dewasa.
Seperti yang dikatakan editor Mr. Dashwood, film ini ditutup dengan pernikahan.
Film "Little Women" sudah tayang di bioskop Indonesia.
Baca juga: Trailer film adaptasi novel Louisa May Alcot "Little Women" dirilis
Baca juga: Emma Watson akan bintangi "Little Women"
Baca juga: "The Irishman" hingga "Parasite", film favorit Obama tahun ini

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020

ANTARA

Comments

comments

Leave a Reply

Skip to toolbar