Terminator: Dark Fate: Masih Menghibur Walau Cerita Makin Ngawur

JawaPos.com – Jika harus menyebut satu judul film yang kerap kali bereksperimen dengan paradoks waktu dari masa ke masa, Terminator mungkin adalah jawaban pertama yang muncul di kepala banyak orang. Kefleksibelan premis cerita Terminator membuat sederet sutradara yang pernah menangani film ini bisa dengan leluasa menghadirkan rangkaian kejadian alternatif yang, sayangnya, disusun dalam plot yang kian njelimet.

Hal ini kembali terjadi di Terminator: Dark Fate. Disutradari Tim Miller, ini merupakan film keenam seri Terminator setelah Terminator (1984), Terminator 2: Judgement Day (1991), Terminator: Rise of The Machines (2003), Terminator Salvation (2009), dan Terminator Genisys (2015).

Layaknya John Rambo yang sangat kental dengan sosok Sylvester Stallone, Terminator: Dark Fate tentunya bukanlah sebuah film Terminator tanpa kehadiran Arnold Schwarzenegger di dalamnya. Mantan binaragawan profesional itu masih dipercaya untuk memerankan Terminator seri T-800 meski usianya sudah menginjak 72 tahun.

Yang cukup menarik, ini adalah pertama kalinya Schwarzenegger kembali beradu peran dengan aktris gaek Linda Hamilton yang kembali didapuk menjadi Sarah Connor setelah 28 tahun. Untuk diketahui, keduanya sempat terlibat di dua film Terminator terdahulu.

Untuk memahami lebih jelas alur Terminator: Dark Fate, ada baiknya mengetahui jalan cerita Terminator dan Terminator 2: Judgement Day terlebih dahulu. Pasalnya, jalan cerita Terminator: Dark Fate akan berangkat dari sana.

Di film pertama, Sarah harus berjuang setengah mati menyelamatkan nyawanya yang diincar oleh T-800. T-800 adalah robot yang dikirim dari masa depan, era di mana manusia harus berperang melawan mesin yang dikontrol sebuah organisasi raksasa bernama Skynet.

Misi T-800 adalah membunuh Sarah yang bakal melahirkan seorang anak bernama John Connor yang notabene akan menjadi pemimpin para umat manusia dalam memerangi Skynet dan pasukan Terminator-nya di kemudian hari. Nyawa Sarah terselamatkan berkat pertolongan seorang serdadu dari masa depan bernama Kyle Reese, yang kemudian menjadi ayah dari John.

Gagal membunuh Sarah dengan model T-800, Skynet lalu mengirim robot yang lebih canggih bernama T-1000 di film kedua. Incaran T-1000 bukan lagi Sarah, melainkan John yang sudah tumbuh menjadi remaja.

Beruntung, John dari masa depan berhasil memprogram ulang sebuah Terminator T-800 dan mengirimnya ke masa lalu untuk menyelamatkan John kecil serta menghancurkan T-1000. Tak hanya itu, mereka juga berhasil menghentikan proses pembuatan Skynet. Dari sinilah kisah Terminator: Dark Fate dimulai.

Film ini dimulai dengan flashback di tahun 1998, tiga tahun setelah peristiwa film kedua terjadi. Sarah dan John yang sedang bersantai di sebuah pantai di Guatemala tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan sebuah unit T-800. Tanpa basa-basi, T-800 itu langsung menembak mati John dengan shotgun yang ia bawa dan segera pergi, meninggalkan Sarah yang terpaku dalam kehisterisan dan ketidakberdayaan.

Kejadian tersebut jelas membuat Sarah dendam kesumat kepada Terminator. Amarah yang tak kunjung padam ini akhirnya membawa Sarah ke Mexico City pada tahun 2020 di mana ia harus berjibaku melawan sebuah Terminator model baru yang sangat kuat bernama Rev-9 (Gabriel Luna) yang sedang mengincar seorang gadis muda bernama Daniella ‘Dani’ Ramos (Natalia Reyes). Sarah juga bertemu dengan seorang tentara super dari masa depan bernama Grace (Mackenzie Davis) yang dikirim untuk melindungi Dani dari kejaran Rev-9.

Rev-9 bukanlah sebuah Terminator sembarangan. Selain memiliki kemampuan beregenerasi dan berubah bentuk seperti T-1000 dan beberapa Terminator antagonis lain di film-film sebelumnya, ia juga punya kemampuan membelah diri menjadi dua. Hal ini tentu semakin merepotkan Sarah, Grace, dan Dani yang tidak punya pilihan lain selain terus melarikan diri dalam keputusasaan.

Takdir akhirnya kembali mempertemukan Sarah dengan T-800 yang dulu membunuh John. Dalam keadaan yang sangat terpaksa dan isi kepala yang berkecamuk, Sarah harus rela bekerjasama dengan T-800 untuk memusnahkan Rev-9.

Dibanding tiga film sebelumnya, cerita dalam Terminator: Dark Fate memang jauh lebih mudah dicerna dan cukup fresh. Penonton kali ini dihadapkan kepada keadaan yang belum terjadi sebelumnya di mana John Connor akhirnya tewas dan tidak lagi menjadi inti cerita. Bisa dikatakan, film ini mungkin adalah film Terminator yang seharusnya hadir setelah Terminator 2: Judgement Day.

Adegan pertarungan dan tembak-tembakan yang disuguhkan di sepanjang film juga bombastis dan menghibur. Bagi para penggemar Terminator, kehadiran Schwarzenegger dan Hamilton dalam satu layar tentu akan membawa nostalgia yang manis.

Namun, seperti yang sudah disebut di atas, semua keseruan yang ada terasa mubazir lantaran plot cerita yang semakin dipaksakan. James Cameron, selaku produser film dan sutradara di dua film pertama, seakan tidak mau kisah Terminator berakhir.

Ia kerap memunculkan tokoh-tokoh baru sembari terus bermain-main dengan kemungkinan-kemungkinan alternatif dari paradoks waktu. Pada satu titik, ada kesan bahwa plot film ini dibuat dengan cukup ‘malas’. Bagaimanapun, ‘membunuh’ sosok John Connor hanya untuk menggantikannya dengan sosok baru yang, untuk kesekian kalinya, kembali dikejar-kejar untuk dibunuh bukanlah sebuah terobosan baru.

Secara keseluruhan, Terminator: Dark Fate bukanlah sebuah film yang buruk. Film ini tetap bisa dinikmati, khususnya mereka yang setia mengikuti seri Terminator. Film ini mungkin lebih cocok lagi bagi mereka yang menggilai genre film action dan mengesampingkan kualitas jalan cerita. Dengan demikian, mereka tidak mesti memusingkan betapa ngawur dan dangkalnya jalan cerita film ini.

SUMBER

Comments

comments

Leave a Reply

Skip to toolbar